http://cur.cursors-4u.net/games/images9/gam855.gif

Selasa, 10 September 2019

Resensi Buku

| |


  Habis Gelap Terbitlah Terang

Identitas buku:
Judul buku      : Habis Gelap Terbitlah Terang
Penulis             : Armijn Pane
Penerbit           : PT Balai Pustaka (Persero)
Tahun Terbit    : 2009
Cetakan           : Cetakan kedua puluh delapan
Tebal buku      : 268 halaman
ISBN               : 979-407-063-7




















Sinopsis buku:
             Raden Ajeng Kartini adalah salah satu pahlawan yang mempelopori kebangkitan perempuan pribumi (emansipasi wanita di Indonesia). Kartini lahir pada tanggal 28 Rabiulakhir tahun Jawa 1808 (21 April 1879 di Mayong) Jepara, ia bersekolah di sekolah Belanda di Jepara yaitu ELS (Europanse Lagere School). Kartini adalah anak kelima dari sebelas bersaudara kandung dan tiri. Ayahnya bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara dan ibunya bernama M.A. Ngasirah, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. R.A. Kartini merupakan cucu dari Bupati Demak yaitu Pangeran Ario Tjondronegara, yang terkenal suka dengan kemajuan. Semasa Kartini sekolah, ia merasa bebas namun, sewaktu berumur dua belas tahun ia pun dipaksa ditutup (dipingit). Orang tua Kartini memang memegang adat memingit dengan teguh, meskipun dalam hal lain sudah maju. Empat tahun lamanya Kartini memegang adat memingit dimana ia tidak diperbolehkan keluar-keluar lagi. Selama itu, ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-temannya yang berasal dari Belanda. Pergaulan mereka seolah-olah sudah seperti saudara kandung. Pada mulanya Nyonya Ovink-Soer yang menjadi tempatnya berlindung sehingga disebutnya ibu. Nyonya Ovink-Soer selalu membuatnya gembira, dia pulalah yang berdaya upaya supaya kartini dibebaskan, tetapi dia selalu merasa bimbang mengingat apa yang terjadi pada Kartini nanti. Sebelum tahun 1895), Nyonya Ovink-Soer pindah ke Jombang karena suaminya dipindahkan ke sana. Namun, Kartini juga sudah berkirim surat dengan Nona Zeehandelaar, di negeri Belanda.
                  Pada saat Kartini sudah berumur enam belas tahun (tahun 1895) saudara permpuannya menikah. Kartinilah yang menjadi tertua saat itu. Pergaulannya dengan adik-adiknya selama ini terlihat kaku. Pada tahun 1900, adiknya Rukmini dipingit, Rukmini saat itu berumur empat belas tahun. Pada tanggal 8 Agustus 1900 Kartini berkenalan dengan Mr. Abandanon, yang datang berkunjung ke Jepara serta dengan nyonyanya. Disinilah jalan cita-cita Kartini banyak terbimbing oleh Mr. Abandanon dan istrinya, yang kini menjadi pengganti dari Nyonya Ovink-Soer. Saat itu Kartini bercita-cita untuk pergi ke negeri Belanda atau ke Betawi, sekolah dokter. Mr. Abandanon menyarankan supaya Kartini bersekolah di Betawi agar dapat menjadi guru di sekolah anak gadis yang akan didirikannya nanti. Atas ajakan Mr. Abandanon dikirim rekes Kartini kepada pemerintah dan beliau menasehati supaya tidak menunggu balasan rekes tersebut.
              Pada akhir tahun 1902, adiknya Kardinah sudah menikah, hal ini melemahkan Kartini, menjadi salah satu hal yang membuat dia berubah rohaninya. Lalu antara tanggal 7-24 Juli 1903 diterimanyalah balasan rekesnya namun ditolak olehnya karena akan menikah dengan Bupati Rembang yaitu K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat pada tanggal 12 November 1903. Kemudian tanggal 13 September 1904 anak laki-lakinya lahir, diberinya nama Soesalit Djojoadhiningrat. Empat hari setelah melahirkan pada tanggal 17 September 1904 Kartini pun meninggal. Makamnya berada di Bulu, dekat Rembang.
             Adapula kelebihan dari buku ini yaitu memuat kisah-kisah inspiratif dari kehidupan R.A. Kartini yang dalam perjuangannya dalam pendidikan sangatlah besar. Dapat dicontoh dari ketegaran beliau yang menghadapi kegelisahan dalam hatinya dengan penuh ketegaran. Dalam buku ini, penulis melampirkan beberapa foto meliputi kediaman Kartini, foto kakek, foto suami, foto Mr. Abandanon, dan masih banyak lagi yang dapat menambah gambaran kita seperti apa sosok R.A. Kartini dahulu. Penulis juga memberikan cover buku ini dengan baik. Adapun juga dibubuhkan contoh-contoh isi surat Kartini dengan tulisan aslinya namun penulis juga memberikan terjemahan dari isi surat tersebut sehingga pembaca dapat mudah memahaminya.
        Terlepas dari keunggulan buku tersebut, adapula kelemahan dari buku tersebut yang masih menggunakan ejaan-ejaan yang masih sulit dimengerti karena menggunakan kata imbuhan –lah dibeberapa kata. Dalam buku ini juga, masih banyak pengulangan kalimat dalam buku tersebut. Lalu, dalam buku yang saya baca, terdapat bagian kalimat yang luntur atau tersobek sehingga terdapat bagian yang hilang dari buku. Di bagian gambar yang dibubuhkan masih belum terlihat jelas bagaimana bentuk dari rumah dan lingkungan yang ada pada gambar.
            Namun menurut saya buku ini sangat baik untuk dibaca karna dapat menambah pengetahuan kita betapa pentingnya pendidikan dan memotivasi kita untuk terus bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Kemudian bagi perempuan Indonsia sudah sepatutnya berterimakasih dan bersyukur karna beliaulah kita dapat memenuhi hak kita untuk menuntut ilmu dengan sangat mudah serta kini kedudukan perempun dan laki-laki sudah tidak dibedakan lagi.

Sumber
http://library.uny.ac.id
http://uny.ac.id

0 komentar:

Posting Komentar

Widget Animasi

Popular Posts

 

Designed by: Compartidísimo
Images by: DeliciousScraps©